Muhammad Ilham Kahar Rilis Buku Puisi Ketiga: Setelah Cinta, Lalu Apa?
SELAYARTODAY.COM||Penulis muda Muh Ilham Kahar kembali merilis karya terbarunya yang berjudul Setelah Cinta, Lalu Apa?. Buku ini menjadi buku puisi ketiga setelah sebelumnya ia menerbitkan Makam untuk Segala Rindu dan Kau Tidak Melukaiku, Aku Memilih Menderita.
Karya terbaru ini hadir sebagai kelanjutan dari perjalanan personal Ilham dalam memahami cinta, kehilangan, serta ruang-ruang sunyi yang sering kali tak sempat terucap. Melalui bahasa yang reflektif dan intim, Ilham mengajak pembaca menyelami pertanyaan sederhana namun mendalam: apa yang tersisa setelah cinta tidak lagi utuh?
Dalam buku ini, Ilham tidak berusaha meromantisasi luka maupun merayakan patah hati. Sebaliknya, ia menghadirkan puisi sebagai ruang kontemplatif—tempat di mana kehilangan tidak selalu berbentuk kepergian, melainkan perubahan dalam diri yang kerap sulit dijelaskan.
“Buku ini saya tulis dari sesuatu yang tidak lagi utuh, tetapi masih terus hidup,” tulis Ilham dalam pengantar bukunya.
Tentang Penulis
Muh Ilham Kahar adalah penulis yang percaya bahwa kata-kata mampu menyampaikan hal-hal yang tidak sempat diucapkan manusia. Melalui puisi, ia merawat ingatan, perasaan, dan pertanyaan-pertanyaan kecil tentang cinta dan kehilangan.
Selama lebih dari enam tahun, Ilham juga aktif di dunia kreatif, khususnya dalam produksi konten digital dan video. Saat ini ia bekerja sebagai Video Editor di salah satu organisasi non-pemerintah di Indonesia, mengolah cerita melalui visual, suara, dan potongan gambar.
Di tengah aktivitasnya sebagai kreator visual, menulis puisi menjadi ruang sunyi bagi Ilham—tempat ia berdialog dengan dirinya sendiri, kenangan, serta cinta yang datang dan pergi, namun selalu meninggalkan cerita.
Tentang Buku
Setelah Cinta, Lalu Apa? merupakan kumpulan refleksi yang lahir dari pengalaman kehilangan yang tidak pernah benar-benar selesai. Buku ini memuat puisi-puisi yang berbicara tentang rindu yang menyerupai duka, perpisahan yang terasa seperti kehilangan arah, hingga pencarian diri di antara kenangan masa lalu.
Alih-alih memberikan jawaban, buku ini justru membuka ruang bagi pembaca untuk menemukan makna masing-masing—bahwa setelah cinta, mungkin pertanyaan yang paling penting bukan tentang siapa yang datang berikutnya, tetapi apakah seseorang masih bisa kembali kepada dirinya sendiri.

Posting Komentar