Menggugat Kecelakaan Berpikir

  SELAYARTODAY.COM|| Tulisan yang mengkritik keterlibatan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam Pemilihan Ketua OSIS (Pilketos) serentak di provinsi Sulawesi Selatan pada dasarnya mengangkat persoalan yang penting, yakni pendidikan demokrasi tidak boleh direduksi menjadi sekadar aktivitas mencoblos. Namun, kritik yang dilayangkan oleh Darwis Tahang berjudul “Menggugat Kosmetik Demokrasi di Sekolah”, terjebak pada cara pandang yang terlalu dikotomis antara prosedur elektoral dan demokrasi substantif. Karena ketika KPU hadir memberikan pendampingan, menyediakan simulasi, atau mengenalkan tata cara Pemilu kepada siswa, maka demokrasi otomatis berubah menjadi sekadar ritual elektoral. Padahal, pemilihan merupakan instrumen esensial dalam demokrasi. Demokrasi memang tidak berhenti pada bilik suara, tetapi bukan berarti bilik suara tidak memiliki nilai pendidikan. Dalam konteks sekolah, proses memilih, berkampanye, berdebat, menghitung suara, menerima kekalahan, dan menghormati pilihan may...