Muhammad Arsyad Tawarkan Selayar Blue Nutrition, Mengubah Kekayaan Laut Menjadi Kekayaan Gizi dan Masa Depan Anak
SELAYARTODAY.COM|| Bagaimana jika kekayaan laut Selayar tidak hanya dihitung dari berapa banyak ikan yang ditangkap, dijual dan menghasilkan pendapatan, tetapi juga dari seberapa besar kekayaan tersebut mampu meningkatkan kualitas gizi, kesehatan dan masa depan anak-anak Selayar?
Pertanyaan itu menjadi salah satu gagasan utama yang mengemuka dalam Seminar Nasional dan Kuliah Umum Institut Teknologi Sains dan Bisnis Muhammadiyah (ITSBM) Selayar, Senin, 7 September 2026.
Dalam forum yang mempertemukan akademisi, mahasiswa dan peserta dari berbagai unsur tersebut, Muhammad Arsyad, SKM., MKes, MScPH (ASN PemkabSelayar dan KorPres KAHMI Selayar), menawarkan sebuah gagasan yang menghubungkan potensi maritim Selayar dengan pembangunan kesehatan masyarakat melalui konsep “Selayar Blue Nutrition.”
Gagasan tersebut dibangun dari sebuah paradoks yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat kepulauan.
Selayar kaya laut dan ikan, tetapi persoalan gizi dan stunting masih menjadi tantangan pembangunan manusia.
Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024 menunjukkan prevalensi stunting Kabupaten Kepulauan Selayar sebesar 25,7 persen, turun dari 31,3 persen pada 2023. Penurunan sebesar 5,6 poin persentase tersebut menunjukkan perkembangan positif, tetapi angka Selayar masih berada di atas prevalensi nasional tahun 2024 yang sebesar 19,8 persen.
Karena itu, menurut Arsyad, keberhasilan penurunan stunting harus diapresiasi, tetapi tidak boleh membuat daerah berhenti.
“Jika Selayar kaya ikan, mengapa kekayaan tersebut belum sepenuhnya berubah menjadi kekayaan gizi bagi anak-anak kita?”
Pertanyaan itu menjadi pintu masuk untuk melihat persoalan stunting dari perspektif yang lebih khas daerah kepulauan.
Bukan Sekadar Mengajak Makan Ikan.
Arsyad yang juga sebagai Ketua Perhimpunan Sarjana dan Profesi Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Selayar, menegaskan bahwa Selayar Blue Nutrition bukan sekadar kampanye makan ikan dan bukan pula upaya mencari satu makanan yang dianggap sebagai solusi stunting.
Stunting merupakan persoalan multidimensional yang berkaitan dengan kualitas konsumsi pangan, praktik pemberian makan anak, infeksi, sanitasi, air bersih, pelayanan kesehatan, pola asuh, pendidikan, kondisi sosial ekonomi dan lingkungan.
Karena itu, ikan tidak boleh diposisikan sebagai “obat stunting”.
“Ikan bukan obat stunting. Tidak ada satu jenis makanan yang dapat menyelesaikan persoalan stunting sendirian,” tegasnya.
Namun, ikan memiliki posisi strategis sebagai salah satu sumber pangan hewani yang potensial, khususnya bagi masyarakat kepulauan.
Ikan dapat menyediakan protein berkualitas dan, tergantung jenisnya, sejumlah mikronutrien serta asam lemak omega-3 seperti DHA(Docosahexaenoid Acid) dan EPA(Eicosapentaenoic Acid) yang memiliki berbagai fungsi biologis penting.
Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan. Zat besi berperan antara lain dalam pembentukan hemoglobin, zinc berkaitan dengan pertumbuhan dan fungsi sistem imun, sedangkan DHA dan EPA memiliki peran penting dalam berbagai proses biologis, termasuk perkembangan sistem saraf pada masa awal kehidupan.
Karena itu, menurut Arsyad, tantangannya bukan lagi sekadar mengatakan “mari makan ikan”, tetapi memastikan ikan benar-benar menjadi bagian dari pola makan yang bergizi, aman, terjangkau dan sesuai kebutuhan anak.
Dari Laut ke Piring Anak.
Konsep Blue Nutrition yang ditawarkan Arsyad digambarkan melalui sebuah jalur yang disebut Fish-to-Health Pathway:
Laut → Ikan → Pangan → Nutrisi → Pertumbuhan dan Perkembangan → Kesehatan → Kualitas Manusia.
Rantai tersebut terlihat sederhana, tetapi dalam praktiknya tidak otomatis terjadi. Ikan yang berada di laut belum tentu sampai ke meja makan keluarga. Ikan yang sampai di meja makan belum tentu dikonsumsi anak.
Dan anak yang mengonsumsi ikan belum tentu mendapatkan pola makan yang beragam dan cukup sesuai kebutuhan tumbuh kembangnya.
Di antara laut dan tubuh anak terdapat banyak mata rantai: nelayan, pedagang, pasar, pengolah pangan, keluarga, kader, Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah desa dan lingkungan tempat anak tumbuh.
Karena itu, Blue Nutrition dirancang sebagai ekosistem, bukan sekadar slogan.
Lima Pilar Selayar Blue Nutrition.
Untuk memastikan gagasan tersebut tidak berhenti sebagai konsep, Arsyad yang saat ini juga sedang mengikuti Program Doktor di UNHAS, menawarkan lima pilar utama.
Pertama, Availability atau ketersediaan.
Pangan laut bergizi harus tersedia secara berkelanjutan.
Kedua, Access atau akses.
Keluarga, terutama kelompok rentan, harus mampu memperoleh pangan bergizi dengan harga yang terjangkau.
Ketiga, Acceptability atau penerimaan.
Makanan harus sesuai dengan budaya, kebiasaan keluarga dan selera anak.
Keempat, Safety atau keamanan.
Ikan dan pangan laut harus aman dari bahaya biologis, kimia maupun fisik.
Kelima, Utilization atau pemanfaatan.
Pangan harus diolah, disimpan dan diberikan dengan cara yang mendukung pemanfaatan zat gizinya.
Lima pilar tersebut menunjukkan bahwa persoalan gizi tidak selesai hanya karena ikan tersedia. Ikan yang tersedia tetapi tidak terjangkau belum menyelesaikan persoalan. Ikan yang terjangkau tetapi tidak diterima anak juga belum cukup. Ikan yang disukai tetapi tidak aman tentu bermasalah.
1.000 Hari Pertama Menjadi Titik Penting.
Arsyad juga menempatkan 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai salah satu titik strategis dalam pendekatan Blue Nutrition.
Pada sekitar usia enam bulan, kebutuhan energi dan zat gizi anak meningkat sehingga ASI perlu dilengkapi dengan makanan pendamping yang adekuat, aman dan sesuai usia.
Menurutnya, Selayar memiliki peluang besar untuk mengembangkan MP-ASI berbasis pangan lokal, termasuk memanfaatkan ikan sebagai salah satu sumber protein hewani dalam menu yang beragam. Bukan berarti membuat “MP-ASI ikan” sebagai satu-satunya menu.
Yang dibangun adalah pola makan yang beragam dengan memanfaatkan bahan lokal yang tersedia, seperti sumber karbohidrat, sayuran, buah, telur dan ikan.
Dengan demikian, intervensi gizi dapat lebih dekat dengan kehidupan masyarakat dan tidak bergantung pada bahan pangan yang mahal atau sulit diperoleh.
Jangan Takut Makan Ikan, tetapi Jangan Abaikan Keamanan.
Dalam paparannya, Arsyad juga mengingatkan bahwa pembicaraan mengenai pangan laut harus disertai perhatian terhadap keamanan pangan.
Salah satu isu yang perlu diperhatikan adalah merkuri, terutama pada ikan predator besar dan berumur panjang yang berpotensi mengakumulasi methylmercury.
Kelompok rentan, termasuk ibu hamil, janin dan anak-anak, membutuhkan perhatian khusus.
Namun, menurut Arsyad, respons yang tepat bukan dengan menakut-nakuti masyarakat agar berhenti makan ikan.
Pendekatan yang lebih rasional adalah:
memilih dengan bijak, mengonsumsi secara beragam, mengolah dengan aman dan menggunakan data.
Justru persoalan tersebut dapat menjadi agenda penelitian penting bagi Selayar.
Perguruan tinggi dan pemerintah daerah dapat bersama-sama memetakan jenis ikan lokal berdasarkan kandungan protein dan mikronutrien, harga, keterjangkauan, preferensi masyarakat, pola pengolahan serta profil keamanan pangan.
“Dengan demikian, kebijakan tidak dibangun berdasarkan asumsi. Kita membangun kebijakan berdasarkan bukti.”
Posyandu Tidak Hanya Tempat Menimbang Anak.
Salah satu gagasan penting lain dari Arsyad adalah memperkuat Posyandu sebagai ruang transformasi pengetahuan menjadi praktik.
Posyandu dapat menjadi tempat pemantauan pertumbuhan sekaligus ruang belajar keluarga.
Edukasi gizi, demonstrasi pengolahan pangan lokal, pemantauan pola makan dan penguatan kapasitas kader dapat dikembangkan secara terpadu.
Bayangkan katanya jika setiap desa memiliki beberapa contoh menu pangan lokal yang telah diuji dari sisi nilai gizi, biaya, keamanan, penerimaan anak dan kemudahan pembuatannya.
Maka Posyandu tidak hanya menjadi tempat menimbang anak.
Posyandu dapat menjadi laboratorium kecil perubahan perilaku gizi di tingkat masyarakat.
Stunting Tidak Bisa Dikerjakan Sendirian.
Dalam gagasannya, Arsyad juga menekankan pentingnya konvergensi lintas sektor.
Stunting bukan hanya persoalan Dinas Kesehatan.
Tenaga kesehatan dapat memberikan edukasi, tetapi persoalan harga dan ketersediaan pangan membutuhkan sektor lain.
Ketersediaan ikan tidak hanya menjadi urusan sektor kesehatan.
Sanitasi membutuhkan kerja lintas sektor.
Pemberdayaan ekonomi keluarga juga membutuhkan dukungan sektor lainnya.
Karena itu, Blue Nutrition ditawarkan sebagai platform kolaborasi antara Dinas Kesehatan, Dinas Perikanan, pemerintah desa, perguruan tinggi, UMKM, nelayan, kader, PKK, tokoh masyarakat dan keluarga.
Semua memiliki peran.
Kampus sebagai Living Laboratory.
Dalam konteks tersebut, ITSBM Selayar, Vokasi Unhas Selayar dan perguruan tinggi lainnya dinilai oleh Arsyad, harus dapat mengambil posisi strategis.
Kampus tidak cukup hanya menghasilkan kajian akademik.
Kampus dapat menjadi living laboratory untuk menguji inovasi gizi masyarakat kepulauan.
Mahasiswa dapat melakukan penelitian. Dosen mengembangkan metodologi. Tenaga kesehatan membantu implementasi. Nelayan menyediakan pengetahuan lokal.UMKM mengembangkan produk. Pemerintah memfasilitasi kebijakan. Dan masyarakat menjadi mitra penelitian.
Pertanyaan yang diteliti pun dapat sangat konkret:
Ikan apa yang paling potensial secara gizi? Berapa kandungan nutrisinya? Berapa biaya per porsi? Apakah anak menyukainya? Bagaimana pengaruhnya terhadap keragaman pangan? Bagaimana keamanan pangannya? Apa yang berubah setelah enam atau dua belas bulan?
Dengan pendekatan tersebut, Selayar tidak hanya menjadi penerima program.
Selayar dapat menjadi laboratorium inovasi gizi masyarakat kepulauan.
Pilot Project 12 Bulan.
Arsyad tidak mengusulkan Blue Nutrition langsung menjadi program berskala besar.
Sebaliknya, ia menawarkan pilot project selama 12 bulan yang terukur.
Bulan 1–2: Baseline.
Memetakan pola konsumsi ikan, keragaman pangan, praktik MP-ASI, kondisi pertumbuhan, akses pangan dan faktor lingkungan.
Bulan 3–4: Co-design.
Keluarga, kader, tenaga kesehatan, nelayan, UMKM, pemerintah desa dan akademisi bersama-sama merancang intervensi.
Bulan 5–10: Intervensi.
Edukasi, demonstrasi memasak, pengembangan menu, pendampingan keluarga, penguatan Posyandu dan pemantauan pertumbuhan.
Bulan 11: Evaluasi.
Membandingkan kondisi awal dan akhir.
Bulan 12: Policy Review.
Menentukan apa yang berhasil, apa yang harus diperbaiki dan apakah model tersebut layak diperluas.
Prinsipnya:
“Mulai kecil. Ukur. Belajar. Perbaiki. Kemudian perluas.”
Yang Dibutuhkan Bukan Sekadar Program, tetapi Bukti.
Sebagai praktisi kesehatan sekaligus akademisi (Dosen tidak tetap ITSBM), Arsyad juga menekankan pentingnya pendekatan evidence-based public health atau kesehatan masyarakat berbasis bukti.
Menurutnya, keberhasilan Blue Nutrition tidak boleh hanya dinilai dari banyaknya kegiatan.
Pertanyaan yang lebih penting adalah: Apakah konsumsi pangan sumber hewani meningkat? Apakah keragaman pangan membaik? Apakah praktik MP-ASI membaik? Apakah kecukupan zat gizi meningkat? Apakah kondisi kesehatan anak membaik? Apakah pertumbuhan anak membaik?
Dan yang tidak kalah penting:
Apakah perubahan tersebut benar-benar dapat dikaitkan dengan intervensi?
Dengan demikian, gagasan Blue Nutrition tidak berhenti sebagai jargon.Ia harus diuji.
Blue Nutrition dan Gemarikan: Bukan Pesaing.
Arsyad juga menempatkan gagasan Blue Nutrition sebagai pelengkap terhadap Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan).
Jika Gemarikan mengajak masyarakat untuk makan ikan, maka Blue Nutrition mencoba melangkah lebih jauh dengan mempertanyakan bagaimana memastikan ikan yang dikonsumsi menjadi bagian dari pola makan yang bergizi, aman, terjangkau, sesuai kebutuhan anak dan berdampak terhadap kesehatan.
Dengan demikian, Blue Nutrition tidak menggantikan Gemarikan.
Ia memperluas pendekatan ke dalam ekosistem:
pangan → gizi → kesehatan → ekonomi lokal → lingkungan.
Apa yang Harus Dilakukan Selayar Mulai Besok?
Salah satu bagian yang mendapat perhatian dalam pemaparan tersebut adalah ajakan untuk tidak berhenti pada diskusi.
Menurut Arsyad, Selayar dapat mulai dengan langkah sederhana.
Membentuk tim lintas sektor Blue Nutrition. Memilih lokasi pilot. Melakukan baseline.Memetakan jenis ikan lokal berdasarkan nilai gizi, harga, ketersediaan dan keamanan. Mengembangkan menu pangan anak berbasis bahan lokal. Mengintegrasikannya dengan Posyandu dan edukasi keluarga. Kemudian mengukur hasilnya.
Setelah 12 bulan, ukuran keberhasilan bukanlah seberapa bagus program tersebut terlihat, tetapi apa yang ditunjukkan oleh data.
“Pertanyaannya bukan apakah program ini kelihatannya bagus. Pertanyaannya harus: apakah data menunjukkan bahwa program ini bekerja?”
Jika berhasil, diperluas. Jika belum, diperbaiki.
Dari Natural Capital Menjadi Human Capital.
Pada akhirnya, Blue Nutrition bukan hanya tentang ikan.
Gagasan tersebut menempatkan laut sebagai natural capital atau modal alam yang dapat dihubungkan dengan pembangunan human capital atau modal manusia.
Laut menjadi sumber pangan. Pangan menyediakan nutrisi. Nutrisi mendukung pertumbuhan dan kesehatan. Kesehatan meningkatkan kesempatan anak untuk belajar dan berkembang. Dan manusia yang sehat, cerdas dan produktif menjadi modal utama pembangunan daerah.
Karena itu, menurut Arsyad, pembicaraan mengenai ekonomi biru seharusnya tidak berhenti pada pertanyaan:
“Berapa nilai ekonomi yang dapat kita hasilkan dari laut?”
Tetapi juga perlu dilengkapi dengan pertanyaan:
“Berapa besar kualitas manusia yang dapat kita bangun dari kekayaan laut?”
Di titik inilah blue economy dan public health bertemu.
Selayar 2045 Dimulai dari Piring Anak Hari Ini.
Gagasan tersebut kemudian ditarik ke dalam perspektif yang lebih panjang: Selayar 2045.
Pembangunan Selayar tidak hanya membutuhkan infrastruktur, investasi, pariwisata dan pertumbuhan ekonomi.
Semua itu pada akhirnya membutuhkan manusia yang sehat dan berkualitas.
Anak-anak yang hari ini berada di Posyandu adalah generasi yang akan menentukan wajah Selayar pada 2045.
Mereka kelak dapat menjadi nelayan, guru, dokter, pengusaha, akademisi, birokrat, teknisi, pemimpin desa maupun pemimpin daerah.
Karena itu, memperbaiki makanan seorang anak hari ini sesungguhnya adalah investasi untuk Selayar dua puluh tahun mendatang.
Gizi anak bukan sekadar urusan kesehatan. Gizi anak adalah investasi pembangunan.
Dari Laut Menjadi Masa Depan.
Gagasan Selayar Blue Nutrition pada akhirnya menawarkan cara pandang baru terhadap kekayaan laut.
Laut tidak hanya dipandang sebagai sumber komoditas. Laut juga dapat menjadi sumber nutrisi.
Ikan tidak hanya menjadi sumber pendapatan. Ikan juga dapat menjadi bagian dari investasi kesehatan.
Dan anak-anak tidak sekadar menjadi penerima program. Mereka adalah pusat pembangunan masa depan.
Selayar tidak harus memilih antara ekonomi biru (Blue Economy) dan kesehatan masyarakat. Keduanya dapat berjalan bersama. Kekayaan laut dapat menggerakkan ekonomi sekaligus mendukung pembangunan manusia.
Dari laut menjadi pangan. Dari pangan menjadi nutrisi. Dari nutrisi menjadi kesehatan.
Dari kesehatan menjadi manusia berkualitas.Dan dari manusia berkualitas lahirlah masa depan Selayar.
SELAYAR BLUE NUTRITION. Mengubah kekayaan laut menjadi kekayaan gizi. Mengubah kekayaan gizi menjadi kekuatan manusia unggul. Dan mengubah kekayaan manusia unggul menjadi masa depan Selayar Maju dan Sejahtera.

.jpg)
Posting Komentar