Masyarakat Dusun Batu Pannyu Desa Jambuiya Pertahankan Budaya “Tambung Batu” sebagai Warisan Leluhur
SELAYARTODAY.COM - Masyarakat Dusun Batu Pannyu hingga kini masih mempertahankan budaya lokal yang diwariskan secara turun-temurun, yakni tradisi “Tambung Batu”, sebuah ritual adat yang dilakukan untuk mengenang dan mendoakan anggota keluarga yang telah meninggal dunia.
Tradisi ini menjadi simbol kebersamaan, penghormatan kepada almarhum, serta penguatan nilai-nilai sosial di tengah masyarakat. Dalam pelaksanaannya, budaya Tambung Batu dilakukan pada waktu-waktu tertentu yang menandakan genap 7, 10, 20, 30, dan 40 hari sejak seseorang meninggal dunia.
Salah satu masyarakat Dusun Batu Pannyu, Nurabidin (Abi), menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki makna mendalam bagi warga setempat.
“Budaya Tambung Batu ini menandakan genapnya hari-hari tertentu setelah seseorang meninggal dunia. Batu-batu dikumpulkan untuk disusun di atas kuburan sebagai tanda penghormatan dan doa dari keluarga serta masyarakat,” jelasnya.
Ia menambahkan, dalam prosesi tersebut masyarakat secara bersama-sama berbondong-bondong menuju sungai untuk mengambil batu yang kemudian dibawa ke lokasi pemakaman. Sementara itu, di rumah duka dilaksanakan kegiatan pengajian dan doa bersama sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum.
Setelah rangkaian kegiatan tersebut selesai, pada keesokan harinya masyarakat akan memasang batu nisan baru di kuburan.
Selanjutnya, sejumlah barang milik almarhum, seperti tempat tidur dan perlengkapan lainnya, dibawa ke rumah Imam Dusun sebagai bagian dari tradisi adat yang telah lama dijalankan.
Tradisi Tambung Batu tidak hanya menjadi bentuk penghormatan kepada orang yang telah meninggal dunia, tetapi juga menjadi simbol solidaritas dan gotong royong masyarakat Dusun Batu Pannyu. Warga berharap budaya ini tetap terjaga dan diwariskan kepada generasi muda sebagai bagian dari identitas budaya lokal.


Posting Komentar