Bulaenna Parangia, Teladan Kepemimpinan yang Mendahulukan Rakyat di Atas Segalanya
SELAYARTODAY.COM|| Di antara sekian banyak kisah kepahlawanan yang hidup dalam ingatan masyarakat Kepulauan Selayar, nama Bulaenna Parangia menempati posisi yang istimewa. Sosok yang dikenal sebagai Raja Tanete, Maddukelleng Daeng Silasa, bukan hanya dikenang sebagai seorang penguasa, tetapi juga sebagai simbol keberanian, kehormatan, dan pengorbanan demi rakyat dan tanah kelahirannya.
Kisah Bulaenna Parangia diwariskan melalui sinrilik, sastra lisan yang telah hidup selama berabad-abad di tengah masyarakat Selayar dan Makassar. Dalam sinrilik tersebut, Bulaenna Parangia digambarkan sebagai pemimpin yang sangat dicintai rakyatnya. Kecintaan rakyat kepada sang raja bahkan melahirkan gelar kehormatan "Bulaenna Parangia", yang berarti "Emas dari Parangia", sebagai lambang betapa berharganya sosok tersebut bagi masyarakatnya.
Sejarah lisan menceritakan bahwa Kerajaan Tanete pernah menghadapi ancaman besar dari pasukan asing yang dikenal sebagai Bangsa Serang. Di tengah situasi yang genting, Bulaenna Parangia dihadapkan pada pilihan sulit: meninggalkan negerinya demi keselamatan atau tetap bertahan bersama rakyatnya menghadapi peperangan.
Namun pilihan yang diambilnya justru menjadikan namanya abadi dalam sejarah. Ia menolak meninggalkan Tanete. Baginya, seorang pemimpin tidak boleh meninggalkan rakyat saat negeri berada dalam ancaman. Bersama para tubarani dan rakyatnya, ia memilih berdiri di garis terdepan perlawanan.
Pertempuran besar pun terjadi. Walaupun harus menghadapi pasukan yang lebih kuat dan lebih besar jumlahnya, Bulaenna Parangia dan para pengikut setianya bertempur hingga titik darah penghabisan. Dalam kisah yang diwariskan turun-temurun, sang raja akhirnya gugur sebagai kesatria, tetapi tidak pernah menyerah dan tidak pernah tunduk.
Nilai-nilai yang diwariskan Bulaenna Parangia tetap relevan hingga hari ini. Keberanian menghadapi tantangan, kesetiaan kepada rakyat, serta komitmen menjaga kehormatan menjadi pelajaran berharga bagi generasi Selayar masa kini.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, kisah Bulaenna Parangia mengingatkan bahwa kemajuan suatu daerah tidak hanya dibangun oleh kekuatan ekonomi dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh karakter dan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu.
Bagi masyarakat Kepulauan Selayar, Bulaenna Parangia bukan sekadar tokoh dalam cerita masa lalu. Ia adalah simbol semangat Tanadoang yang tetap hidup—semangat untuk menjaga kehormatan, mencintai tanah kelahiran, dan berdiri teguh membela kebenaran meski harus menghadapi risiko terbesar sekalipun.
"Nama boleh terkubur oleh waktu, tetapi keberanian akan selalu dikenang oleh sejarah."
Oleh : Tim Redaksi

Posting Komentar