BERBAGI
Ketua HMI MW DIY Khamim Zarkasih. Foto: Istimewa

YOGYAKARTA – Kasus perusakan masjid Quwwatul Islam di Jalan Mataram No 1 oleh oknum masyarakat pada Senin (9/10) tengah malam kemarin menuai keprihatinan banyak pihak. Kasus tersebut dinilai merusak citra kota Yogyakarta sebagai city of tolerance (kota toleran).

Menurut Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Khamim Zarkasih Putro, kejadian yang mencerminkan perilaku intoleran tersebut seharusnya tidak dilakukan warga Yogyakarta yang senantiasa menjunjung tinggi nilai-nilai budaya.

“Saya sangat menyesalkan atas kejadian itu dan berharap ini adalah kejadian yang terakhir. Kejadian ini memang mencederai ikon city of tolerance,” tutur Khamim yang Ketua Alumni Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini kepada wartawan, Selasa (10/10).

Khamim menghimbau agar ummat Islam jangan terprovokasi dengan kejadian ini. Ummat Islam, kata dia,  hendaklah menjaga kebersamaan sesama umat Islam dan jangan mudah terpancing untuk secara reaktif melakukan hal-hal yang cenderung destruktif, yang akan merugikan kepentingan umat secara keseluruhan.

Tabayyun (cek kebenaran, red) atas segala hal yang terjadi, sehingga bisa bertindak secara proporsional,” imbau Ketua Presidium Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam Majelis Wilayah DIY (KAHMI MW DIY) ini.

Di sisi lain, Khamim menengarai ada unsur politik di balik semua kejadian yang membuat keresahan masyarakat akhir-akhir ini di Indonesia, termasuk kejadian di masjid Quwwatul Islam. Menurutnya, dalam situasi dimana mulai naiknya suhu politik menjelang tahun politik menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, memang kerap muncul kejadian yang memancing emosi masyarakat.

“Apa motif pelaku saya tidak tahu, itu wilayah Polisi yang menyelidiki kasusnya. Namun saya lebih melihat ini sebagai fenomena menaiknya suhu politik yang selalu terjadi  menjelang tahun politik,” ujarnya.

Terkait penanganan kasus, Khamim menilai aparat kepolisian sudah bekerja secara profesional. Dari informasi yang ia dapatkan, hingga (09/10/2017) malam, Polisi dari Polsek Danurejan sudah mengamankan 4 orang. Satu orang ditetapkan sebagai tersangka dan lainnya, masih berstatus saksi. Namun demikian, kata dia, masyarakat perlu mengawal kasus tersebut supaya tidak ada upaya-upaya pembelokan persoalan yang akan memperkeruh suasana Yogyakarta yang sudah nyaman ini.

“Kepada pemerintah kami berharap supaya meningkatkan perannya dalam upaya menjaga dan meningkatkan kehidupan yang penuh toleran ini, sehingga akan semakin menumbuhkan rasa saling percaya antar komponen Masyarakat,” imbuh Dosen Psikologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Khamim menginformasikan, Paska kejadian, Senin (09/10) digelar tabligh akbar dan PAM (pengamanan) yang diselenggarakan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah  (KOKAM) DIY. Tabligh akbar diisi tausiyah Ust. Umar Said dengan tema Persatuan Kaum Muslimin  untuk Mempertahankan Kehormatan dan Kemuliaan Islam.

“Tabligh akbar yang berlangsung damai sebagai upaya untuk turut menjaga suasana Yogyakarta yang aman dan nayaman,” tutup Khamim Zarkasih Puto.

Sebagaimana diketahui, Masjid Quwwatul Islam dirusak oleh oknum yang tak dikenal pada Senin (9/10/2017) sekitar pukul 01.00. Dalam kejadian tersebut saksi sekaligus pelapor adalah penjaga masjid Saifudin (28) mahasiswa asal Soco, Jogorogo, Ngawi, Jawa Timur (Jatim). Sebagai saksi, Bahar Abdul Malik (17) warga Sendangtirto, Berbah, Sleman. Saksi lainnya, imam masjid, Izzun Nafroni (31) warga Sumberagung Jonggrang Barat dan penjaga masjid, Irwan Fauzi (22) warga Desa Seco, Ngawi, Jatim

Berdasarkan keterangan para saksi kejadian pengrusakan berlangsung singkat. Awalnya pelaku menendang pintu sebelah barat Masjid Quwwatul Islam yang saat ini dalam proses renovasi. Kemudian, pelaku melakukan pelemparan batu dan masuk ke dalam masjid, lalu merusak dua kursi di masjid. Pelaku yang masuk ke dalam masjid satu orang, namun ada seorang lagi di luar. Saat dikejar pelaku sempat melarikan diri sebelum akhirnya berhasil diamankan polisi. (NG)

Penulis / Sumber : religiku

BERBAGI